LEBARAN TERAKHIR BERSAMAMU
Gemerlap malam takbir menggema dalam hati setiap insan, menyusup dan
merajai dalam hati manusia. Menumbuhkan kembali benih – benih kasih-Nya.
Sepasang insan manusia duduk sambil bercanda. Ya, Alan dan Tyas sedang duduk menikmati
kumandang takbir yang bertalu – talu. Namun kenikmatan itu tidaklah bertahan
lama. Alan menatap dan tertegun ketika
sepasang kekasih lewat di depannya dan duduk tidak jauh darinya. Dengan sudut
matanya, Alan melirik seorang cowok yang asyik berduaan dengan seorang cewek. Sesekali
tangan mereka saling menggenggam, terlihat begitu mesra. Alan jadi merasa geram
dan dongkol. Ia mengatupkan rahangnya, menahan emosi yang terasa mengaliri
aliran darah di setiap detak nadinya.
Tyas merasa khawatir melihat perubahan sikap
kekasinya. Sudut mata Alan tak lepas dari sepasang kekasih di seberangnya.
Beberapa lama kemudian sepasang kekasih itu berdiri dan pergi dari tempat itu.
Tyas menautkan kedua alisnya, tak mengerti, saat Alan terburu – buru mengikuti
sepasang kekasih yang dari tadi diperhatikannya. Mau tak mau Tyas mengikuti
langkah cepat Alan meninggalkan tempat itu.
Tanpa diduga sebelumnya, Alan memukul cowok itu di
tempat parkir, hingga cowok itu jatuh tersungkur. Gadis yang ada bersamanya
menjerit. Tyas tak mengucapkan sepatah kata pun karena terkejut.
” Berdiri kamu!” bentak Alan.
Tangannya masih terkepal. Cowok itu mengusap darah yang mengalir dari sudut
bibirnya. Ia hanya tersenyum kecut.
” percuma! Aku tak akan
melawanmu,” ucapnya dengan suara datar.
” Satria kamu tidak apa –
apa?” gadis yang bersama Satria terlihat begitu cemas. Ia menghapus darah di
sudut bibir Satria dengan sapu tangannya.
” siapa dia, Satria?
Mengapa tiba – tiba memukulmu?” gadis itu semakin cemas, apalagi keadaan di
tempat parkir malam itu terlihat rame.
Satria berdiri dan membersihkan bajunya.
” bukan siapa –siapa. Hanya bagian dari.....dari
masa lalu.”
”Benar kah?”
Mata Alan terlihat masih menyimpan rasa amarah. Apalagi Satria tidak
berusaha melawannya. Bahkan Satria hanya tersenyum kecut dan menyindir. Membuat
Alan semakin merasa emosi. Satria siap memukul lagi, tapi tyas menghalanginya.
”sudah, Alan kumohon,”
mata Tyas berkaca – kaca penuh harap. Gadis yang terlihat bersama Satria pun
terlihat ketakutan. Masa lalu apa yang membuat mereka itu jadi seperti ini?
Sejuta tanya mengendap di hati Tyas.
”sebenarnya ada apa
diantara kalian berdua?” Tyas mencoba mencari tahu.
”tanyakan itu pada
cowokmu!” jawab Satria pendek.
Alan berdiri mematung, matanya masih menatap tajam ke arah Satria.
”dia merebut cintaku.”
ucapan Alan singkat, tapi mampu membuat persendian kaki Tyas lemas. Gadis yang
di samping Satria terdiam. Kedua telapak tangannya menutupi mulutnya.
”tak kusangka, rupanya kau
mengkhianati Cinta,” ujar Alan sangat marah.
”jangan bicara sembarangan
kamu!” ancam Satria, namun tak membuat nyali Alan menciut.
”kenapa? Kalau tak salah,
kalian sepasang kekasih kan? Kau dengan gadis ini?” Alan mengarahkan
pandangannya ke samping Satria. Gadis itu terlihat bingung.
”ini tak seperti yang kau kira,” gumam Satria,
tapi masih jelas terdengar. Alan jadi tambah geram. Di matanya, Satria sungguh
sangat picik. Dulu dia merebut Cinta dari darinya. Dan sekarang dia bersama
gadis lain. Apakah itu berarti Satria hanya ingin mempermainkan Cinta? Karena
amarah yang ditahan, reflek tangan Satria mencengkram kerah baju Alan. Kekasih
Satria dan Alan mencoba menghalangi keduanya.
”kalian tidah usah
ikut campur! Ini masalah kami yang belum terselesaikan!” sentak Satria. Kedua
gadis itu ketakutan dan segera bergegas pergi meninggalkan mereka berdua dengan
seribu pertanyaan di hati masing – masing.
”kau punya nyali juga,” ejek Alan.
”kau tidak pernah tahu
perasaan Cinta. Kau pengecut!” ucap Satria penuh dengan tekanan. Perlahan
cengkeraman tengannya dia lepas.
”perasaan apa? Apakah
Cinta punya perasaan? Apakah kau juga punya perasaan? Cinta berpaling dari
hatiku karena kau! Kalau bukan karena kau yang terus mengejarnya....!”
”kamu salah paham, Lan.
Bukan aku yang mengejarnya. Cinta sendiri yang datang padaku, agar kau
memutuskan tali kasih kalian.” potong Satria, membuat Alan terdiam
”permainan apa lagi ini?”
batinnya.
”kau memang pengecut, Lan.
Kalau kau memang mencintai Cinta, mengapa kau melepaskan dia begitu saja?”
pertanyaan Satria membuat Alan langsung tertegun. Ya, kalau dia mencintai
Cinta, mengapa tak pernah mencoba meraih cinta gadis itu kembali selama setahun
ini? Bahkan, dia selalu menghindari pertemuan dengan gadis itu. Dia tidakmampu
berhadapan dengan Cinta. Karena gadis itu telah mengkhianatinya dengan menjalin
kasih dengan Satria.
”aku tidak mau kesalahan
pahaman ini berlanjut. Janagn pernah salahkan Cinta. Di antara kami tidak
pernah ada hubungan cinta. Sungguh! Dan hubungan kami itu hanya sandiwara
Cinta, agar kau meninggalkannya.” ujar Satria, membuat Alan semakin tak
mengerti. Satria mencoba memberi titik terang. Satria mengatakan, Cinta tahu
Alan sangat mencintainya. Dia tak ingin membuat Alan sangat menderita karena
mencintainya.
”kenapa dia sanggup
melakukan hal seperti itu? Apakah Cinta tidak tahu? Hatiku sakit!”
”Cinta
juga sakit, bahkan lebih sakit darimu!” ucap Satria dengan geram.
“apa kata mu?”
potong Alan penuh dengan teka – teki.
”maafkan aku, Cinta.
Terpaksa aku menceritakan semuanya agar kesalahpahaman ini tak berlanjut<”
batin Satria.
”kamu ingin tahu,Lan?
Cinta menderita kanker otak. Dia tahu, bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Dia
ingin membuatmu menderita. Karena Cinta tahu, kalau kau begitu mencintainya,
setulus hatimu.”
Alan merasakan, bumi yang dipijaknya seakan berputar. Benarkah yang dikatakan Satria? Jika
benar, bodoh sekali dirinya! Membiarkan Cinta merasakan penderitaannya sendiri.
Keesokan harinya, gema
takbir bertalu – talu, memukul – mukul hati Alan yang tak karuan. Alan
melangkah menuju masjid dengan hati yang hancur. Shalat Id pun dikerjakannya
dengan penuh keikhlasan. Di akhir – akhir kegiatan shalat Id, Alan menemui
Tyas.
Tyas tertegun mendengar kata – kata yang
terlontar dari bibir kekasihnya. Kekasih yang selama enam bulan ini
menemaninya.
”maafin aku, yas?
Sungguh, aku tidak ingin menyakitimu. Tapi aku sangat mencintai Cinta. Kau
boleh memakiku jika itu bisa membuatmu lega.”
Tyas semakin tak bisa menahan air matanya. Jadi, selama ini Alan hanya
menjadikannya pelarian untuk menghindar dan melupakan sosok Cinta. Tapi dia
tidak boleh egois. Bagaimanapun dia juga seorang wanita. Dia tahu, Cinta pasti
lebih menderita darinya. Tyas menyentuh jemari Alan perlahan, ia mencoba
tersenyum walau terlihat begitu dipaksakan.
”kembalilah pada Cinta.
Temani dia, jangan biarkan menderita seorang diri.” suara Tyas terdengar begitu
bergetar. Mata Alan bersinar, seakan ingin mengucapkan ribuan terima kasih atas
kebesaran hati Tyas.
Alan langsung bergegas menuju ke tempat cinta.
Air mata Alan jatuh terurai saat memandangi sesosok tubuh Cinta terbaring
dengan selang infus ditangannya. Wajahnya pucat tanpa rambut dikepalanya.
Padahal setahun yang lalu rambut gadis itu terurai indah dengan warna hitam
alami. Setahun yang lalu mereka masih merayakan Idul Fitri bersama.
Alan perlahan menarik
kursi, dan duduk di samping tempat tidur. Dipandanginya wajah Cinta penuh
dengan kerinduan yang terpendam. Wajah itu terlihat lelah. Kelopak mata Cinta
terlihat bekerjap seperti sayap kupu – kupu yang siap terbang seakan hendak meninggalkan
istirahat dan kelelahannya. Kemudian mata itu terbuka, dan terlihat begitu
terkejut saat melihat senyum yang begitu ia rindukan selama setahun terakhir
ini.
”Alan,...” gumamnya
perlahan. Alan mengangguk, ia mencoba untuk tegar.
”aku datang untukmu Cin,” ucap Alan, membuat Cinta terdiam.
“pasti Satria yang telah memberi tahu keadaan ku
pada Alan” tebak Cinta dalam hatinya.
” kamu tidak ikut
keluargamu silaturrahim dan maaf – maafan di keluarga besar, kamu?” tanya Cinta
dengan lemah.
”aku masih memiliki
lebaran yang indah setahun lalu bersamamu, itu sudah cukup bagiku,” jawab Alan.
”tapi...”
”sSsttt...” potong Alan.
” ngomong – ngomong
setahun tidak bertemu, aku semakin jelek, ya? Kurus, tanpa rambut, pucat,” bibir Cinta bergetar.
”kamu masih tetap Cinta
yang dulu,” Alan mencoba menghibur. Digenggamnya jemari Cinta.
”kudengar, kamu sudah
punya cewek lagi. Siapa namanya?” Cinta mencari tahu.
”Tyas....”
”dia cantik?”
Alan mengangguk. Hatinya terasa benar – benar
runtuh mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Cinta. Gadis itu seakan
merasa rendah diri dengan keadaanya sekarang. Tapi hal itu tidak mampu melunturkan rasa cinta di
hati Alan. Bahkan sejujurnya, dia semakin mencintai sosok Cinta. Tidak peduli
bagaimana keadaannya sekarang.
”Lan, aku masih
mencintaimu. Aku tidak bisa melupakanmu sampai detik ini.” air mata Cinta sudah
mengalir dari sudut matanya.
Alan merasakan pelupuk matanya memanas. Tapi ia tidak ingin Cinta
melihatnya lemah. Alan menghapus air mata Cinta dengan jemarinya.
”kamu tahu, Cin? Kamu
jahat sekali. Suka dan bahagia kamu berikan padaku. Kita lewati bersama. Tapi
kenapa duka kamu tanggung sendiri? Kamu tidak adil, Cin! Ijinkan aku memikul
setengah saja bebanmu agar kamu tidak merasakan berat itu sendiri.”
Cinta mengangguk. Kata –
kata Alan begitu menyejukkan hatinya. Andai saja ia bisa meminta pada Tuhan
agar diberi kesempatan kedua untuk bersama Alan. Mengulang kembali lebaran –
lebaran yang indah bersama Alan. Tapi, malam ini Cinta merasakan lebaran tahun
ini adalah lebaran yang terindah dalam hidupnya.
”Alan aku ingin kamu
bernyanyi untuk ku sebelum aku tidur selamanya.”
”Sssttttt...kamu jangan
ngomong seperti itu!”
Alan pun bernyanyi seiring dengan bait – bait lagu merdu, mata Cinta mulai
pudar. Perlahan cahayanya redup. Peri – peri putih seakan beterbangan
meninggalkannya. Gadis jelita yang wajahnya dapat kulihat bila aku memandang ke
angkasa. Yang suaranya dapat ku dengar dalam keheningan malam. Yang tangannya
kugandeng bila aku berjalan. Kini tak berada di sampingku lagi.
Desir ingin membuat dingin melanda di hati
Alan. Alan tak menyangka, lebaran tahun ini adalah lebaran terakhir bersama
Cinta. Bahagialah dalam tidur panjangmu, kekasihku.
The end