Siapa Aku

Blog

Senin, 29 April 2013

Cerpen 1

LEBARAN TERAKHIR BERSAMAMU

Gemerlap malam takbir menggema dalam hati setiap insan, menyusup dan merajai dalam hati manusia. Menumbuhkan kembali benih – benih kasih-Nya. Sepasang insan manusia duduk sambil bercanda. Ya, Alan dan Tyas sedang duduk menikmati kumandang takbir yang bertalu – talu. Namun kenikmatan itu tidaklah bertahan lama. Alan  menatap dan tertegun ketika sepasang kekasih lewat di depannya dan duduk tidak jauh darinya. Dengan sudut matanya, Alan melirik seorang cowok yang asyik berduaan dengan seorang cewek. Sesekali tangan mereka saling menggenggam, terlihat begitu mesra. Alan jadi merasa geram dan dongkol. Ia mengatupkan rahangnya, menahan emosi yang terasa mengaliri aliran darah di setiap detak nadinya.
Tyas merasa khawatir melihat perubahan sikap kekasinya. Sudut mata Alan tak lepas dari sepasang kekasih di seberangnya. Beberapa lama kemudian sepasang kekasih itu berdiri dan pergi dari tempat itu. Tyas menautkan kedua alisnya, tak mengerti, saat Alan terburu – buru mengikuti sepasang kekasih yang dari tadi diperhatikannya. Mau tak mau Tyas mengikuti langkah cepat Alan meninggalkan tempat itu.
Tanpa diduga sebelumnya, Alan memukul cowok itu di tempat parkir, hingga cowok itu jatuh tersungkur. Gadis yang ada bersamanya menjerit. Tyas tak mengucapkan sepatah kata pun karena terkejut.
” Berdiri kamu!” bentak Alan.
Tangannya masih terkepal. Cowok itu mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Ia hanya tersenyum kecut.
            ” percuma! Aku tak akan melawanmu,” ucapnya dengan suara datar.
            ” Satria kamu tidak apa – apa?” gadis yang bersama Satria terlihat begitu cemas. Ia menghapus darah di sudut bibir Satria dengan sapu tangannya.
            ” siapa dia, Satria? Mengapa tiba – tiba memukulmu?” gadis itu semakin cemas, apalagi keadaan di tempat parkir malam itu terlihat rame.
Satria berdiri dan membersihkan bajunya.
            ” bukan siapa –siapa. Hanya bagian dari.....dari masa lalu.”
 ”Benar kah?”
Mata Alan terlihat masih menyimpan rasa amarah. Apalagi Satria tidak berusaha melawannya. Bahkan Satria hanya tersenyum kecut dan menyindir. Membuat Alan semakin merasa emosi. Satria siap memukul lagi, tapi tyas menghalanginya.
            ”sudah, Alan kumohon,” mata Tyas berkaca – kaca penuh harap. Gadis yang terlihat bersama Satria pun terlihat ketakutan. Masa lalu apa yang membuat mereka itu jadi seperti ini? Sejuta tanya mengendap di hati Tyas.
            ”sebenarnya ada apa diantara kalian berdua?” Tyas mencoba mencari tahu.
            ”tanyakan itu pada cowokmu!” jawab Satria pendek.
Alan berdiri mematung, matanya masih menatap tajam ke arah Satria.
            ”dia merebut cintaku.” ucapan Alan singkat, tapi mampu membuat persendian kaki Tyas lemas. Gadis yang di samping Satria terdiam. Kedua telapak tangannya menutupi mulutnya.
            ”tak kusangka, rupanya kau mengkhianati Cinta,” ujar Alan sangat marah.
            ”jangan bicara sembarangan kamu!” ancam Satria, namun tak membuat nyali Alan menciut.
            ”kenapa? Kalau tak salah, kalian sepasang kekasih kan? Kau dengan gadis ini?” Alan mengarahkan pandangannya ke samping Satria. Gadis itu terlihat bingung.
            ”ini tak seperti yang kau kira,” gumam Satria, tapi masih jelas terdengar. Alan jadi tambah geram. Di matanya, Satria sungguh sangat picik. Dulu dia merebut Cinta dari darinya. Dan sekarang dia bersama gadis lain. Apakah itu berarti Satria hanya ingin mempermainkan Cinta? Karena amarah yang ditahan, reflek tangan Satria mencengkram kerah baju Alan. Kekasih Satria dan Alan mencoba menghalangi keduanya.
            ”kalian tidah usah ikut campur! Ini masalah kami yang belum terselesaikan!” sentak Satria. Kedua gadis itu ketakutan dan segera bergegas pergi meninggalkan mereka berdua dengan seribu pertanyaan di hati masing – masing.
            ”kau punya nyali juga,” ejek Alan.
            ”kau tidak pernah tahu perasaan Cinta. Kau pengecut!” ucap Satria penuh dengan tekanan. Perlahan cengkeraman tengannya dia lepas.
            ”perasaan apa? Apakah Cinta punya perasaan? Apakah kau juga punya perasaan? Cinta berpaling dari hatiku karena kau! Kalau bukan karena kau yang terus mengejarnya....!”
            ”kamu salah paham, Lan. Bukan aku yang mengejarnya. Cinta sendiri yang datang padaku, agar kau memutuskan tali kasih kalian.” potong Satria, membuat Alan terdiam
            ”permainan apa lagi ini?” batinnya.
            ”kau memang pengecut, Lan. Kalau kau memang mencintai Cinta, mengapa kau melepaskan dia begitu saja?” pertanyaan Satria membuat Alan langsung tertegun. Ya, kalau dia mencintai Cinta, mengapa tak pernah mencoba meraih cinta gadis itu kembali selama setahun ini? Bahkan, dia selalu menghindari pertemuan dengan gadis itu. Dia tidakmampu berhadapan dengan Cinta. Karena gadis itu telah mengkhianatinya dengan menjalin kasih dengan Satria.
            ”aku tidak mau kesalahan pahaman ini berlanjut. Janagn pernah salahkan Cinta. Di antara kami tidak pernah ada hubungan cinta. Sungguh! Dan hubungan kami itu hanya sandiwara Cinta, agar kau meninggalkannya.” ujar Satria, membuat Alan semakin tak mengerti. Satria mencoba memberi titik terang. Satria mengatakan, Cinta tahu Alan sangat mencintainya. Dia tak ingin membuat Alan sangat menderita karena mencintainya.
            ”kenapa dia sanggup melakukan hal seperti itu? Apakah Cinta tidak tahu? Hatiku sakit!”
            ”Cinta juga sakit, bahkan lebih sakit darimu!” ucap Satria dengan geram.
            “apa kata mu?”  potong Alan penuh dengan teka – teki.
            ”maafkan aku, Cinta. Terpaksa aku menceritakan semuanya agar kesalahpahaman ini tak berlanjut<” batin Satria.
            ”kamu ingin tahu,Lan? Cinta menderita kanker otak. Dia tahu, bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Dia ingin membuatmu menderita. Karena Cinta tahu, kalau kau begitu mencintainya, setulus hatimu.”
Alan merasakan, bumi yang dipijaknya seakan berputar. Benarkah yang dikatakan Satria? Jika benar, bodoh sekali dirinya! Membiarkan Cinta merasakan penderitaannya sendiri.
            Keesokan harinya, gema takbir bertalu – talu, memukul – mukul hati Alan yang tak karuan. Alan melangkah menuju masjid dengan hati yang hancur. Shalat Id pun dikerjakannya dengan penuh keikhlasan. Di akhir – akhir kegiatan shalat Id, Alan menemui Tyas.
            Tyas tertegun mendengar kata – kata yang terlontar dari bibir kekasihnya. Kekasih yang selama enam bulan ini menemaninya.
            ”maafin aku, yas? Sungguh, aku tidak ingin menyakitimu. Tapi aku sangat mencintai Cinta. Kau boleh memakiku jika itu bisa membuatmu lega.”
Tyas semakin tak bisa menahan air matanya. Jadi, selama ini Alan hanya menjadikannya pelarian untuk menghindar dan melupakan sosok Cinta. Tapi dia tidak boleh egois. Bagaimanapun dia juga seorang wanita. Dia tahu, Cinta pasti lebih menderita darinya. Tyas menyentuh jemari Alan perlahan, ia mencoba tersenyum walau terlihat begitu dipaksakan.
            ”kembalilah pada Cinta. Temani dia, jangan biarkan menderita seorang diri.” suara Tyas terdengar begitu bergetar. Mata Alan bersinar, seakan ingin mengucapkan ribuan terima kasih atas kebesaran hati Tyas.
            Alan langsung bergegas menuju ke tempat cinta. Air mata Alan jatuh terurai saat memandangi sesosok tubuh Cinta terbaring dengan selang infus ditangannya. Wajahnya pucat tanpa rambut dikepalanya. Padahal setahun yang lalu rambut gadis itu terurai indah dengan warna hitam alami. Setahun yang lalu mereka masih merayakan Idul Fitri bersama.
            Alan perlahan menarik kursi, dan duduk di samping tempat tidur. Dipandanginya wajah Cinta penuh dengan kerinduan yang terpendam. Wajah itu terlihat lelah. Kelopak mata Cinta terlihat bekerjap seperti sayap kupu – kupu yang siap terbang seakan hendak meninggalkan istirahat dan kelelahannya. Kemudian mata itu terbuka, dan terlihat begitu terkejut saat melihat senyum yang begitu ia rindukan selama setahun terakhir ini.
            ”Alan,...” gumamnya perlahan. Alan mengangguk, ia mencoba untuk tegar.
            ”aku datang untukmu Cin,” ucap Alan, membuat Cinta terdiam.
            “pasti Satria yang telah memberi tahu keadaan ku pada Alan” tebak Cinta dalam hatinya.
            ” kamu tidak ikut keluargamu silaturrahim dan maaf – maafan di keluarga besar, kamu?” tanya Cinta dengan lemah.
            ”aku masih memiliki lebaran yang indah setahun lalu bersamamu, itu sudah cukup bagiku,” jawab Alan.
            ”tapi...”
            ”sSsttt...” potong Alan.
            ” ngomong – ngomong setahun tidak bertemu, aku semakin jelek, ya? Kurus, tanpa rambut, pucat,”   bibir Cinta bergetar.
            ”kamu masih tetap Cinta yang dulu,” Alan mencoba menghibur. Digenggamnya jemari Cinta.
            ”kudengar, kamu sudah punya cewek lagi. Siapa namanya?” Cinta mencari tahu.
            ”Tyas....”
            ”dia cantik?”
            Alan mengangguk. Hatinya terasa benar – benar runtuh mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Cinta. Gadis itu seakan merasa rendah diri dengan keadaanya sekarang. Tapi hal itu tidak mampu melunturkan rasa cinta di hati Alan. Bahkan sejujurnya, dia semakin mencintai sosok Cinta. Tidak peduli bagaimana keadaannya sekarang.
            ”Lan, aku masih mencintaimu. Aku tidak bisa melupakanmu sampai detik ini.” air mata Cinta sudah mengalir dari sudut matanya.
Alan merasakan pelupuk matanya memanas. Tapi ia tidak ingin Cinta melihatnya lemah. Alan menghapus air mata Cinta dengan jemarinya.
            ”kamu tahu, Cin? Kamu jahat sekali. Suka dan bahagia kamu berikan padaku. Kita lewati bersama. Tapi kenapa duka kamu tanggung sendiri? Kamu tidak adil, Cin! Ijinkan aku memikul setengah saja bebanmu agar kamu tidak merasakan berat itu sendiri.”
            Cinta mengangguk. Kata – kata Alan begitu menyejukkan hatinya. Andai saja ia bisa meminta pada Tuhan agar diberi kesempatan kedua untuk bersama Alan. Mengulang kembali lebaran – lebaran yang indah bersama Alan. Tapi, malam ini Cinta merasakan lebaran tahun ini adalah lebaran yang terindah dalam hidupnya.
            ”Alan aku ingin kamu bernyanyi untuk ku sebelum aku tidur selamanya.”
            ”Sssttttt...kamu jangan ngomong seperti itu!”
Alan pun bernyanyi seiring dengan bait – bait lagu merdu, mata Cinta mulai pudar. Perlahan cahayanya redup. Peri – peri putih seakan beterbangan meninggalkannya. Gadis jelita yang wajahnya dapat kulihat bila aku memandang ke angkasa. Yang suaranya dapat ku dengar dalam keheningan malam. Yang tangannya kugandeng bila aku berjalan. Kini tak berada di sampingku lagi.
            Desir ingin membuat dingin melanda di hati Alan. Alan tak menyangka, lebaran tahun ini adalah lebaran terakhir bersama Cinta. Bahagialah dalam tidur panjangmu, kekasihku.
The end



0 komentar:


Design by caqil_chitam © 2013